MENGELOLA PEMBELAJARAN DENGAN METODE HYPNOTEACHING
Disusun
oleh;
RUDI
HARIAWAN
ADM. PENDIDKAN FIP IKIP MATARAM
KATA PENGANTAR
Puji-syukur
kepada Allah SWT, Penguasa dan Pemelihara alam semesta beserta isinya, dan atas
Rahman dan Rahim-Nya semata, tugas ini dapat diselesaikan tepat pada waktunya.
Sholawat dan salam semoga selalu tercurahkan kepada Rasulullah SAW, juga pada
para keluarga, sahabat, serta orang-orang beriman hingga hari akhir.
Makalah
ini mengambil topik mengelola
pembelajaran dengan metode hypnoteaching. Hypnoteaching sebagai inovasi dalam pembelajaran dengan menggunakan unsur hypnosis untuk membangun motivasi
dalam diri setiap peserta
didik. Pada makalah ini akan dibahas secara mendalam konsep dan penerapannya
dalam dunia pendidikan.
Semoga makalah ini bermanfaat terutama
bagi penyusun sendiri dan bagi para pembaca.
DAFTAR ISI
HALAMAN JUDUL
............................................................................................ i
KATA PENGANTAR ......................................................................................... ii
DAFTAR ISI........................................................................................................ iii
BAB I PENDAHULUAN
A.
Pengetahuan................................................................................................ 1
B.
Rumusan Masalah ...................................................................................... 1
C.
Tujuan ........................................................................................................ 1
BAB II PEMBAHASAN
A.
Berbagai Pandangan Tentang
Hypnosis .................................................... 3
B.
Pengertian Hypnoteaching ......................................................................... 4
C.
Sejarah Metode Hypnoteaching.................................................................. 5
D.
Pikiran Sadar dan Pikiran Bawah
Sadar .................................................... 7
E.
Cara kerja Hypnosis pada otak .................................................................. 8
F.
Manfaat Metode Hypnoteaching ............................................................. 10
G.
Aplikasi Metode Hypnoteaching dalam Belajar
Mengajar ...................... 11
H.
Langkah-langkah Metode Hypnoteaching ............................................... 14
I.
Kelebihan dan Kekurangan Metode Hypnoteaching ............................... 15
J.
Hasil Kajian yang Relevan........................................................................ 17
BAB III PENUTUP
A.
KESIMPULAN........................................................................................ 18
B.
SARAN.................................................................................................... 18
DAFTAR PUSTAK............................................................................................ 19
BAB I
PENDAHULUAN
A.
Latar Belakang
Mengelola pembelajaran bukan perkara mudah jika
tanpa didukung oleh kemampuan dan keterampilan mengajar yang baik. Guru yang
mampu melakukan hal tersebut itulah guru yang professional, untuk menjadi guru
professional dibutuhkan empat kompetensi dasar yang harus dimiliki seorang guru. Keempat kompetensi
tersebut yaitu, kompetensi pedagogik, kompetensi sosial, kompetensi kerpribadian
dan kompetensi profesional sesuai dengan bidang keahliannya masing-masing. Guru
yang professional tidak dibentuk secara isntan melainkan dibentuk melalui
serangkaian proses pendidikan yang panjang, baik sebelum maupun sesudah menjadi
guru. Keprofesionalan seorang guru tidak bersiafat permanen, karena itulah seorang
secara terus menarus harus meningkatkan pengalaman mengajarnya dengan mengitu
pendidikan dan pelatihan diluar mapun didalam lingkungan mengajarnya. Salah
satunya adalah melakukan inovasi pembelajaran dengan menggunakan metode
hypnoteaching menyampaikan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK) kepada
peserta didik secara efektif.
Banyak pendidik yang beranggapan bahwa tidak ada
satu metode mengajar yang paling baik tapa didukung oleh metode yang lain. Bila
demikian, metode-metode mengajar yang banyak bermunculan didunia pendidikan
dijadikan sebagai referensi untuk memperkaya wawasan dan pengalaman dalam mendisain
gaya mengajar sesuai kemampuan dirinya yang terbaik. Kenapa demikian?, karena
guru merupakan core pendidikan di
sekolah, segala prilaku guru, baik ucapan dan perbuatan menjadi pusat perhatian bagi siswa. Guru
adalah orang yang digugu dan ditiru.
Kegagalan guru dalam mengelola pembelajaran,
bisanya terjadi karena cara menyajikan pelajaran tersebut tidak menarik bagi
siswa. Ketidakmenarikan ini barangkali dipengaruhi oleh berbagai faktor salah
satunya adalah pendidik. Jika masalahnya bersumber pada guru, ada baiknya guru
mengubah cara mengajarnya menjadi lebih baik. Pada makalah ini, akan dibahas
mengola kelas dengan metode hypnoteaching.
Pada
tahun 2009, Hypnoteaching mulai diperkenalkan sebagai salah satu pendekatan pembelajaran
di Indonesia. Tentu orang yang belum paham tentang ilmu hipnosis secara umum
akan keheranan bertanya, “Hipnosis di dalam kelas?”. Hypno berasal dari kata hypnosis yang berarti keadaan dimana
seseorang berada dalam kondisi trans,
atau mudah menerima sugesti. Teaching merupakan kata dari bahasa inggris, yaitu
teach yang berarti mengajar. Dengan demikian, Hypnoteaching merupakan cara pembelajaran atau cara mengajar dengan
menggunakan unsur hypnosis, yaitu saat seseorang bisa menerima sugesti dengan
mudah. Berbeda dengan Hypnoteraphy,
saat melakukan hypnoteaching, klien (disini adalah siswa-siswa) berada
dalam keadaan sadar seutuhnya-dengan mata terbuka. Tujuan utama hypnoteaching
adalah untuk membangunkan motivasi
dalam diri setiap siswa. Sampai makalah ini tersusun,
penulis belum menjumpai hasil kajian yang secara spesifik membahas tentang
hypnoteaching, tetapi ditemukan berbagai kajian yang dapat mendukung penerapan
hypnoteaching dalam pembelajaran dikelas, seperti Kosiczky & Mullen (2013)
dalam artikelnya tentang Humor in Hight
School and the role of teacher leaders in school public relations.
Penyebab
tidak masuknya pengetahuan dari guru adalah karena pikiran siswa sedang
terpecah atau tidak fokus. Disinilah penggunaan cara mengajar dengan teknik hypnoteaching.
Yaitu, dengan merilekskan pikiran siswa agar pengetahuan yang didapat bisa
dipahami dengan baik.
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang diatas, maka dapat dibuat
rumusan malasah sebagai berikut:
1.
Bagaimana pandangan guru tentang hypnoteaching?
2.
Bagaimana konsep dasar hypnoteaching?
3.
Bagaimana langkah-langkah penerapan hypnoteaching dalam pembelajaran?
C. Tujuan
Berdasarkan rumusan masalah di atas, maka dapat dibuat
rumusan malasah sebagai berikut:
1.
Untuk mengetahui pandangan guru tentang hypnoteaching
2.
Untuk mengetahui konsep dasar hypnoteaching
3.
Untuk mengetahui langkah-langkah penerapan hypnoteaching dalam pembelajaran
BAB II
PEMBAHASAN
A.
Berbagai Pandangan Tentang Hypnosis
Masyarakat awam dan termasuk penulis juga hanya mengenal
satu cabang dari hypnosis, yaitu Hypnosis
Stage (hipnosis panggung), yang sering ditayangkan di televisi sebagai
acara hiburan. Namun, sebenarnya ada banyak cabang lainnya dari ilmu hipnosis,
sebut saja Hypnotheraphy (pemakaian
hipnosis dalam bidang medis), Hypnosell
(dalam bidang penjualan), Hypnoteaching
(dalam bidang pendidikan), dan bidang lainnya. Bahkan, hipnosis sendiri
merupakan fenomena alamiah dalam aktivitas sehari-hari manusia. Disadari atau
tidak, hipnosis adalah hal yang biasa saja.
Beberapa pandangan mengenai hypnosis, antara lain sebagai berikut:
1. Pandangan tidak tahu menahu tentang hypnosis
Tipe
orang yang tidak tahu menahu sering kali terjadi karena tidak adanya
sosialisasi hipnosis ke masyarakat. Masyarakat yang jauh dari informasi seperti
teknologi internet, perpustakaan internet dan lainnya menyulitkan seseorang
untuk mengakses informasi-informasi terkini dan enggan mau tahu tentang
hypnosis.
2. Pandangan tidak tahu tetapi menerapkan
Masyarakat
yang tidak mengetahui hipnosis mungkin saja telah mempraktekkan konsep hypnosis
dalam kehidupan sehari-hari. Bahkan, mereka sudah bisa dikatakan sebagai
maestronya. Orang-orang tipe seperti ini bisa digambarkan seorang guru yang
piawai memberikan motivasi kepada peserta didiknya untuk semangat belajar,
mampu mengajar dengan penyampaian yang mampu membuat peserta didik memusatkan
perhatiannya kepada guru hingga membuat guru tersebut menjadi pusat perhatian
peserta didiknya. Dan Seorang ibu yang mampu meredam keinginan anaknya untuk
berhenti bermain dan mampu membuat anaknya belajar di tengah anaknya sedang
asyik bermain, seorang ustad atau ustadzah yang sangat digandrungi oleh
jama’ahnya.
3. Pandangan tidak mau tahu
Tipe
ini biasanya berpandangan hypnosis sebagai angin lalu, yang cukup dijadikan
sebagai dongeng belaka karena mereka beranggapan bahwa tidak mempelajari
hypnosis pun tidak merugikan mereka.
4. Pandangan tahu sedikit tetapi salah tanggap Sebagian masyarakat menganggap ilmu hypnosis
adalah ilmu yang menggunakan kekuatan makhluk halus untuk mempengaruhi orang
lain
5. Pandangan tahu sedikit tetapi takut mendalaminya
Bagi
masyarakat yang sudah terkena dogma atau anjuran-anjuran dari seorang yang
memang tahu, tapi salah tanggap, biasanya mereka enggan dengan dan takut untuk
mendalaminya. Apalagi hal itu diperkuat dengan alasan-alasan kuat dalam agama
tertentu, tradisi, adat istiadat, dan semacamnya. Dengan demikian, mereka
menganggap bahwa lebih baik menjauhi hal-hal buruk daripada berkecimpung dengan
hal-hal yang bisa membuat dirinya menentang ajaran yang telah ia percaya.
6. Pandangan tahu dan menggunakannya tetapi tidak mengakuinya
Pandangan
seperti ini biasanya berlaku pada seorang yang mampu melakukan meditasi hingga
menuju kondisi alpha dan tetha seperti contohnya motivasi diri,
merelaksasikan tubuh dan pikiran orang lain, namun orang tersebut tidak
mengakui apa yang dilakukan sering dianggap bukan dan bebas dari unsur hipnosis
7. Penggunaan secara fanatik.
Sering
kali, orang yang telah mempelajari hipnosis dalam kesehariannya dan memperdalam
keilmuan hipnosis juga terlalu fanatik terhadap berbagai teknik yang “luar
biasa” dan dapat digunakan untuk menuntaskan berbagai permasalahan,
sampai-sampai segala macam penyakit baik fisik maupun non fisik diyakini hanya
dapat dituntaskan dengan teknik hipnosis. Padahal setiap memiliki ranahnya
masing-masing. Hipnosis merupakan salah satu dari berbagai ragam cara dalam
meningkatkan kualitas mental dan spiritual hidup seseorang.
Sebenarnya
semua orang bisa melakukan hipnosis, akan tetapi banyak yang tidak menyadari.
Hipnosis pada intinya membuat orang lain yakin terhadap apa yang orang katakan,
dan orang yang mendengar mampu terbawa pada apa yang dikatakan orang tersebut.
Hal itu dikarenakan alam bawah sadar seseorang mampu berada pada kondisi alpha
B.
Pengertian Metode Hypnoteaching
Dari
istilah bahasa “hypnoteaching” berasal dari dua kata yaitu hypno dan
teaching. Elvin Syaputra dalam buku Hypnoteaching for Succes Learning
mengartikan kata hypnotic sebagai hal yang menyebabkan tidur. Dan, hypnotis
berarti ahli hypnosis. Sementara teaching bermakna mengajar. Dengan pengertian ini hypnoteaching
berarti mengajar yang dapat menyebabkan tidur. Bila pengertian ini yang
dikehendaki, berarti hypnoteaching sangat tidak berguna dalam mendukung
pengajaran di kelas. Namun, pengertian seperti inilah yang banyak terjadi di
lapangan. Artinya, di saat guru berceramah menyampaikan pelajaran, tidak
sedikit peserta didik yang mulai terserang tidur.
Hypnosis
adalah fenomena mirip tidur, namun bukan tidur, hypnoteaching
dalam pembahasan di sini dapat diartikan sebagai proses pengajaran yang
dapat memberikan sugesti kepada para peserta didik. Adapun makna tidur di sini
bukan berarti kondisi tidur secara normal di malam hari, namun menidurkan
sejenak aktivitas pikiran sadar dan mengaktifkan pikiran bawah sadar (Noer. 2010:117).
Menurut
Bobby DePotter dan Mike Hernacki dalam jurnal penelitian yang
ditulis oleh Ratnawati menyatakan bahwa eksperimen yang dilakukan oleh Dr. George Lozanov yang berkutat pada “suggestology”
atau “suggestopedia” menghasilkan sebuah prinsip bahwa sugesti dapat
dan pasti mempengaruhi situasi dan hasil belajar. Dan, setiap detail apapun
dapat memberikan sugesti positif maupun negatif (Ratnawati, 2005:61).
“Metode
hypnoteaching juga dapat didefinisikan sebagai metode pembelajaran yang
dalam menyampaikan materi, guru memakai bahasa-bahasa bawah sadar yang
bisa menumbuhkan ketertarikan tersendiri kepada peserta didik” (Yustisia,
2012:75)
Kunci
dari metode hypnoteaching sebenarnya adalah bagaimana guru bisa
menciptakan lingkungan belajar yang nyaman secara intern (psikis)
maupun ekstern (fisik). Karena ketika
kenyamanan ada dalam pembelajaran, mereka akan merasakan pula proses belajar
yang menyenangkan, dan ketika dalam sebuah pembelajaran rasa nyaman dipastikan
materi yang disampaikan guru akan mudah sekali diserap oleh peserta didik (Ratnawati,
2005:71). Hal itu bisa terjadi karena kondisi nyaman adalah kondisi yang
diciptakan oleh operator hipnotis (guru) dengan sebuah komunikasi yang berguna
membawa subjek hipnotis (peserta didik) ke kondisi alam bawah sadarnya
(Gunawan, 2007:54)
Pada
intinya seorang guru diwajibkan untuk bisa mempermudah sebuah pembelajaran hal
itu jelas di perintahkan oleh Nabi melalui haditsnya yang artinya:
“Dari Ibnu Abbas RA berkata Rasulullah SAW bersabda: ajarilah olehmu dan mudahkanlah, jangan
mempersulit dan gembirakanlah jangan membuat mereka lari, dan apabila salah
seorang di antara kamu marah maka diamlah” (HR. Ahmad dan Bukhori).
Dan
sesungguhnya Allah menghendaki kemudahan bagi hamba-hamba-Nya dan tidak
menghendaki kesulitan bagi mereka. Dalam Hadist lain tentang bagaimana guru
harus bersikap dan memperlakukan murid-muridnya, Nabi bersabda yang artinya:
“Dari Abi Hurairah RA
berkata: Rasulullah SAW bersabda: Janganlah engkau berlaku kejam/bengis, karena
sesungguhnya guru itu lebih baik daripada orang yang bengis. (H.R. Baihaqi)”
Jika
guru dalam kondisi psikis yang terganggu karena tidak bisa mengontrol jiwa hati
dan fikiran terhadap permasalahan pribadinya, guru akan mudah sekali
tersinggung dan marah tentu saja peserta didik yang akan jadi pelampiasannya, sikap
guru yang seperti itu menunjukkan seorang guru yang tidak bisa bersikap
profesional, dan hal itu seharusnya tidak sepatutnya dilakukan oleh guru.( Noer,
2010:131)
Metode
hypnoteaching juga mendidik para guru agar menjadi guru yang
profesional, menjiwai perannya sebagai seorang guru yang merupakan sosok yang
digugu dan ditiru yang akhirnya mampu memberikan contoh yang baik dari segi
berbicara, bertingkah laku, maupun berpenampilan, karena peserta didik tidak
akan bisa menjadi seperti apa yang kita inginkan kalau guru sebagai sang
pemberi perintah justru malah menunjukkan penampilan, atau perbuatan yang
sangat bertolak belakang dari apa yang di perintahkan kepada peserta didik.
C.
Sejarah Metode Hypnoteaching
Hypnosis
telah digunakan sejak zaman prasejarah. Hal ini diketahui dari pictograph atau
tulisan kuno yang berhasil ditemukan. seperti, Papirus Ebers dari mesir
yang telah berusia 3000 tahun, telah mencatat tentang cara-cara para pendeta
Mesir jika melakukan pengobatan. Sedikitnya
terdapat dua bentuk hypnosis yang diterapkan pada masa primitive, yaitu
pengulangan ritmik (rhythmical repetition) dan tarian ritual (frantic
dancing, kedua bentuk hypnosis tersebut mempunyai keterkaitan dengan ritual
keagamaan
Sementara
itu, pada Abad Pertengahan, Hypnosis diterapkan oleh beberapa bangsawan dan
dikenal sebagai sentuhan bangsawan atau royal touch. Salah satu tokoh
bangsawan yang menerapkan hypnosis adalah Edward the Confessor (1066)
dan para raja di Prancis yang menganggap dirinya sebagai Tuhan. Pada akhir abad
ke- 18 ide-ide tersebut mulai runtuh dan mati bersamaan dengan terbitnya
periode Renaisans. Sebab, periode Renaisans merupakan masa ketika orang-orang
mulai mencari dasar ilmiah atas berbagai fenomena yang terjadi.
Meskipun
demikian, ternyata ritual sentuhan bangsawan kemudian dihidupkan kembali ketika
penobatan Charles X saat itu, ia beranggapan bahwa tubuh surgawi memberi
makan ke tubuh manusia melalui perantara magnet. Kemudian, Pernyataan dari Charles
X ini dilanjutkan oleh Franz
Anton Mesmer (1734-1815), seorang berkebangsaan Vienna yang kemudian pindah
ke Paris. Mesmer banyak mengutip ide dari para ahli pendahulunya.
1)
Paracelsus dengan ide tentang
magnet.
2)
Richad Mead dengan pernyataannya bahwa seluruh kehidupan dijalankan oleh hukum
alam.
3)
Father Hell, seorang pendeta Jesuit yang mencoba menemukan cara menyembuhkan orang
dengan memakai lempengan logam kemudian, lempengan ini dilewatkan melalui tubuh
orang. Ia yakin bahwa proses penyembuhan dari tubuh surgawi bisa menyembuhkan orang(Yustisia,
2012:66)
Selain
itu, Mesmer juga ikut mengklaim bahwa tubuh surgawi bisa menyembuhkan
seseorang. Kemudian, dari Richard Mead, ia memperoleh ide bahwa setiap
tubuh manusia terdapat cairan universal. Ketika cairan tersebut mengalir
lancar, segala hal di tubuh berlangsung secara sempurna, hal ini disebabkan
oleh aliran cairan universal di tubuh yang terhalang. Kemudian, Mesmer
menjalankan lempengan logam melalui tubuh pasien untuk melancarkan aliran
cairan universal.
Mesmer
juga mengklaim bahwa ia mempunyai energi khusus. Ia
menyatakan bahwa magnet mengalir ke tubuhnya melalui tongkat ajaib. Selain itu,
ia juga berkeyakinan dapat menyembuhkan apa pun menggunakan magnet. Pada
periode ini Mesmer juga sangat sukses melalui metode penyembuhannya.
Kemudian, ia meminta French Academika of Medicine untuk mempelajari
metodenya tersebut. Komisi yang diketuai oleh Ben Franklin ini kemudian
ditunjuk untuk melakukan penyelidikan tentang metode Mesmer. Namun, yang
terjadi di luar dugaan Mesmer, ternyata komisi tersebut menemukan bahwa magnet
tidak memberikan pengaruh apapun. Oleh sebab itu, Mesmer kemudian
didiskreditkan pada 1784 sehingga ia menjadi tidak dihargai oleh masyarakat
lagi.
Salah
seorang pengikut Mesmer, Marquis de Puysegur (1781-1825) menemukan suatu
fenomena yang tidak diketahui oleh Mesmer sebelumnya. Hal itu terjadi ketika
Puysegur menerapkan metode yang dipakai oleh Mesmer pada seorang penggembala
berusia 24 tahun. Ia menemukan bahwa subjek yang dipengaruhi oleh magnet, tidak
hanya mengalami fenomena yang tidak biasa, tetapi juga tertidur lelap, pada
kondisi ini, subjek tidak bisa membuka matanya, berbicara dengan kurang jelas,
tetapi bertingkah seolah-olah sadar. Puyseger menyebut kondisi seperti ini
sebagai “artificial somnambulism”. Kemudian Joseph Philippe Francois
Deleuze (1753-1835) menemukan bahwa sugesti yang diberikan kepada subyek selama
dalam kondisi trance akan terus
terbawa sampai subyek tersadar (Yustisia, 2012:66)
Lebih
lanjut lagi. Seorang dokter inggris, Esdaile (1845), menulis buku yang berjudul
Mesmerims in India. Esdaile bekerja di sebuah penjara di India
dan melakukan lebih dari 3000 operasi tanpa memakai obat bius. Umumnya, pada
kondisi ini, 50% dari pasien akan meninggal. Namun, Esdaile melatih para
pasiennya untuk melakukan serangkaian metode tertentu. Melalui metode tersebut,
laju kematian pun bisa ditekan sampai hanya 5%. Hal tersebut kini diketahui
karena dengan hypnosis, pendarahan dalam tubuh bisa diminimalkan. Selain tidak
mengalami dehidrasi. Perlu diketahui bahwa peristiwa pencabutan gigi pertama
kali ternyata sudah dilakukan sebelum itu, yaitu pada tahun 1823. Selain itu,
proses melahirkan pertama menggunakan hypnosis juga dilakukan pada tahun 1826.
Selain
diterapkan pada bidang kesehatan, hypnosis juga mulai berkembang dan diterapkan
pada bidang psikologis. Pada 1880, dua sekolah hipnosis mulai didirikan. Charchot,
seorang neurologis di Prancis melakukan hypnosis kepada duabelas wanita yang
mengalami hysteria. Charchot memberikan
demonstrasi, ketika berada di bawah hypnosis, para pasien bisa berjalan dan
melakukan banyak hal. Akan tetapi, ketika dalam kondisi normal, para wanita
tersebut kehilangan kemampuan untuk berjalan dan melakukan beberapa hal yang
bisa dilakukan sebelumnya. Selain itu, Bernheim, seorang neurologis perancis
yang sangat terkenal membuat klinik di Nancy, Perancis Mereka mengobati lebih
dari 12.000 pasien menggunakan metode hypnosis dan memperkenalkan konsep suggestibility.
D.
Pikiran Sadar dan Pikiran Bawah sadar
Otak
manusia memiliki tiga bagian penting dan mendasar yang disebut batang otak atau
otak reptil, sistem limbik atau “otak mamalia”, dan otak kecerdasan tinggi atau
“otak neo korteks”. Dr. Paul Maclean, dalam Quantum
Learning menyebut ketiga komponen
organ otak ini dengan nama otak triune atau otak three in one.
Dalam otak three in one, masing-masing terbelah menjadi dua bagian,
yakni bagian kanan dan kiri (Ratnawati.2005). Sekarang ini, dua belahan otak
tersebut memiliki cara berfikir yang berbeda. Cara kerja otak kiri dikenal
dengan kerja otak sadar (concious) dan berfungsi sebagai “otak cerdas”, intellegence
quotient atau IQ. Bagian otak ini hanya bergulat dengan tataran wacana,
logika dan kognisi. Sementara otak kanan disebut otak bawah sadar (subconscious)
dan berfungsi sebagai “otak bodoh”. Dikatakan otak bodoh karena apapun
informasi yang disampaikan kepadanya langsung diterima, diyakini dan diakui
kebenarannya. Otak kanan ini dikenal dengan emotional and spiritual quotient
(ESQ)(Noer, 2010)
Ternyata
alam bawah sadar tidak pernah istirahat atau berhenti dalam kondisi apapun.
Pikiran bawah sadar tidak dapat dipengaruhi oleh pengaruh apapun, seperti
narkoba, alkohol, atau kondisi apapun, bahkan dalam keadaan koma sekalipun,
alam bawah sadar tetap bekerja. Sedangkan otak kiri atau pikiran objektif akan
istirahat ketika seseorang sedang istirahat tidur, karena otak kiri bekerja
melalui indra. Sedangkan otak kanan bekerja melalui intuisi (Syatra, 2010:10)
Dalam
realitas kehidupan manusia, di antara kedua otak tersebut, otak bawah sadarlah
yang menyebabkan seseorang menjadi sukses. Otak sadar pintarnya hanya
mengetahui, menghafal, mengerti, dan memahami. Bila orang mengandalkan otak
sadar saja, maka ia akhirnya menjadi
“ahli tahu”. Ia hanya pandai dalam bermain teori dan konsep-konsep, bukan “ahli bisa” yang
terbiasa melaksanakan konsep dan nilai-nilai yang dibuat oleh “ahli tahu”. kasus semacam
itu banyak sekali bertebaran di Indonesia, banyak sekali ahli tahu, tetapi
sedikit sekali ahli bisa. Di negeri ini banyak orang yang ahli dalam bidang
hukum, namun banyak sekali orang yang suka melanggar hukum. Dalam dunia
pendidikan, Indonesia banyak berorientasi pada satu kecerdasan saja, yakni
kecerdasan intelektual. Sementara kecerdasan emosional spiritual kurang begitu
banyak perhatian, akibatnya mentalitas dan kreativitas anak bangsa menjadi rapuh.
Mereka bingung mencari kerja dan hanya mengandalkan secarik ijazah (Noer,
2010:55)
E.
Cara kerja Hypnosis pada otak
Sebenarnya,
pikiran fokus bukan sekedar memperhatikan dan mendengar apa yang sedang murid
pelajari, dalam hal ini diperlukan pula strategi jitu untuk memindahkan
gelombang pikiran seseorang dari kondisi beta menuju kondisi alpha. Melalui
alat ukur yang bernama EEG (Elektro Encephalon Gram) telah ditemukan
bahwa pikiran seseorang terbagi menjadi empat kategorisasi sebagai berikut:
(diadopsi dari Andri
Hakim: Hypnosis In Teaching)
1) Beta (30-14
Hz). Dalam frekuensi ini, kita tengah berada pada kondisi aktif terjaga, sadar
penuh dan didominasi oleh logika. Contohnya dalam pembelajaran, sambil belajar
siswa juga sering menghayal, bercanda dengan teman, main facebook, lapar,
mengantuk, dan sekaligus mendengarkan atau mencatat penjelasan dari gurunya.
Kondisi ini tidak efektif, karena akan membatasi informasi yang diterima oleh
siswa tersebut. Ini disebabkan adanya critical area yang bertugas menyeleksi
seluruh hal yang tidak diinginkan seseorang, termasuk pembelajaran di kelas
yang membosankan bagi siswa
2) Alpha (8-13,9 Hz). Pada kondisi ini, seseorang benar-benar berada pada
kondisi rileks dan fokus, sehingga mudah menyerap informasi secara maksimal
tanpa adanya pikiran yang mengganggu. Caranya dengan menonaktifkan critical
area siswa, sehingga siswa akan berpindah dari kondisi beta ke kondisi alpa.
Karena critikal area merupakan pemisah antara kondisi beta dengan kondisi alpa.
Kondisi beta dikatakan sebagai pikiran sadar manusia, sedangkan kondisi alpa
merupakan pikiran bawah sadar manusia, yang ternyata mempengaruhi 88% tindakan
yang dilakukan oleh manusia yang bersangkutan.
3) Theta (4-7,9 Hz). Dalam frekuensi yang rendah ini, seseorang akan
berada pada kondisi sangat khusyuk, keheningan yang mendalam, deep
meditation, dan “mampu mendengar”
nurani bawah sadar. Inilah kondisi yang mungkin diraih oleh para ulama dan
biksu ketika mereka melantunkan doa di tengah keheningan malam pada Sang ilahi.
4) Delta (0,1-3,9 Hz). Frekuensi terendah ini terdeteksi ketika orang
tengah tertidur pulas. Dalam frekuensi ini, otak memproduksi human growth
hormone yang baik bagi kesehatan kita. Bila seseorang tidur dalam keadaan
delta yang stabil, kualitas tidurnya sangat tinggi. Meski tertidur hanya
sebentar, ia akan bangun dengan tubuh tetap merasa segar( Syatra, 2010:100)
Dari
uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa hypnosis yang dilakukan dalam
pembelajaran bertujuan untuk mengefektifkan proses pembelajaran itu sendiri
agar menjadi lebih menyenangkan, efektif, dan dapat menumbuhkan fokus penuh
perhatian dari anak didik. Melalui hypnotis, guru dapat melakukan teknik-teknik
pembelajaran yang tepat untuk tujuan pembelajaran yang optimal (Yustisia,
2012:74)
Seorang
guru sangat berperan dalam membuat peserta didik-peserta didik bisa memasuki
gelombang pikiran alpha. Menurut Andri Hakm Berikut ini beberapa hal penting
yang perlu dilakukan.
1) Mendapat perhatian
Sebelum proses pembelajaran dilaksanakan, seorang guru bisa memulainya
dengan berdoa atau bernyanyi. Tujuannya adalah agar pikiran bawah sadar peserta
didik tertarik dengan mata pelajaran yang akan disampaikan
2) Membangun Tema
Tentukan sebuah tema yang menarik dalam setiap proses pembelajaran.
Sebagai contoh, dalam pelajaran biologi pada sub materi anatomi tubuh, tema
yang bisa memancing pikiran bawah sadar adalah “serangan jantung mengakibatkan
kematian”. Tema ini merupakan pancingan kepada pikiran bawah sadar peserta
didik untuk memasuki gelombang pikir alpha-nya masing-masing
3) Menampilkan Struktur dan Peraturan.
Hindarilah kalimat-kalimat yang bisa memberatkan pembelajaran peserta
didik. Peraturan perlu diterapkan agar pikiran bawah sadar peserta didik mampu
melingkupi apa yang seharusnya menjadi pusat perhatiannya. Peraturan seperti
tidak boleh bergurau saat pelajaran dan semacamnya yang bisa membuat pikiran
bawah sadar seseorang menjadi konsisten dalam berfokus. Namun, ingat bahwa
setiap peraturan yang dibuat harus disertakan dengan hukuman/punishment yang
setimpal.
4) Membangun Hubungan
Guru yang terlalu keras dan “over dicipline” karena hal itu
membuat kondisi peserta didik tidak relaks. Dan itulah salah satu hal yang
membuat gelombang pikiran peserta didik sulit memasuki kondisi alpha.
Tehnik-tehnik seperti breathing (menarik napas bersama-sama ), mirroring
(menyamakan gerak tubuh guru dengan peserta didik) dan penggunaan bahasa-bahasa
persuasif yang bersifat mengajak membuat informasi yang diberikan
langsung didengar oleh pikiran bawah sadar seseorang.
Dari
semua uraian di atas dapat disimpulkan bahwa dalam sebuah pembelajaran yang
memanfaatkan metode hypnoteaching, pada intinya guru dituntut untuk
mampu menghipnotis peserta didik, hypnotis ini bertujuan untuk membawa peserta
didik ke dalam sebuah suasana yang relaks, nyaman dan hening hingga peserta
didik mudah untuk bisa menerima setiap materi dan pesan moral yang disampaikan
guru. Hipnotis yang dimaksud yaitu guru harus mampu berbahasa yang secara tidak
langsung merupakan bahasa-bahasa persuasi yang sifatnya mengajak dengan penuh
keyakinan dan motivasi hingga peserta didik merasa yakin dan sangat tertarik
dengan semua ajakan guru hingga peserta didik tidak tertarik dengan apapun yang
ada di sekitar. Guru merupakan pusat perhatian, dan ucapan guru merupakan
sesuatu yang berarti bagi guru, hingga peserta didik enggan beralih dari
pembelajaran yang dilakukan di kelas itu.
F.
Manfaat Metode Hypnoteaching
Selama
ini pendidikan selalu mengedepankan tiga ranah kepintaran yaitu kecerdasan
(kognisi), keterampilan (psikomotor), dan kepribadian (kepribadian), dua yang
pertama nampak lebih dipentingkan dalam praktek pendidikan. Sementara Menurut
Miller (2002:3) ranah kepribadian seringkali kurang memperoleh perhatian.
Padahal hanya dengan IQ tinggi tanpa EQ dan SQ yang memadai justru membuat
seseorang lebih berbahaya karena mudah melakukan kejahatan profesional.
Maraknya KKN (korupsi, kolusi dan nepotisme) di negeri ini. Karena pendidikan
selama ini lebih mementingkan kepandaian matematika daripada kesalehan sosial.
Pada
intinya dalam sebuah pendidikan yang dibutuhkan peserta didik adalah kebutuhan
fisik dan psikis, diketahui bahwa masalah pada peserta didik muncul karena ada
kebutuhan psikis yang belum terpenuhi. Dan peserta didik tidak bisa memprotes
atau tidak tau caranya bahkan takut meminta orangtua nya di rumah dan meminta
gurunya di sekolah untuk memenuhi kebutuhan itu. Yang terjadi di permukaan
adalah perubahan perilaku anak yang semakin lama semakin menyimpang (Gunawan, 2007:4)
Berkenaan
dengan kebutuhan anak menurut Gunawan (2007:9)
sebenarnya apa yang dibutuhkan anak jawabannya akan sama dengan apa yang
dibutuhkan manusia, dan yang dibutuhkan manusia adalah rasa aman. Kebutuhan ini
menempati posisi paling tinggi dibandingkan kebutuhan lainnya seperti perasaan
dicintai, dihargai, atau diterima.
Terutama
ketika seorang peserta didik mengalami kesulitan dan tengah melakukan
kesalahan, karena masa itulah seorang anak masa di mana seorang guru harus bisa
menerima. Karena tidak sedikit guru yang tidak bisa menerima kesulitan,
kesalahan, atau kegagalan peserta didik. Karena pada dasarnya seorang anak
membutuhkan pengakuan sepenuhnya dengan segala kelebihan dan kekurangan. Banyak
sekali guru yang justru menjatuhkan peserta didik yang mengalami kegagalan
dalam proses belajar mengajar di kelas. Padahal sebenarnya dalam kondisi di
mana seorang peserta didik yang tengah mengalami kesulitan dan kegagalan adalah
kondisi di mana seorang peserta didik membutuhkan motivasi agar tetap mau
mencoba hingga berhasil (Meggit,2013:24)
Maka
dari itu, metode hypnoteaching dianggap sangat penting dalam upaya
pembelajaran terutama bagi peserta didik yang mengalami kegoncangan jiwa dan
kesulitan dalam mencerna sebuah pelajaran, hal itu bisa dilihat dari manfaat
metode hypnoteaching sebagai berikut:
1) Pembelajaran menjadi menyenangkan dan lebih mengasyikkan baik bagi
peserta didik maupun bagi guru.
2) Pembelajaran dapat menarik perhatian peserta didik melalui berbagai
kreasi permainan yang diterapkan oleh guru.
3) Guru menjadi lebih mampu dalam mengelola emosinya.
4) Pembelajaran dapat menumbuhkan hubungan yang harmonis antara guru dan
peserta didik.
5) Guru dapat mengatasi peserta didik yang mempunyai kesulitan belajar
melalui pendekatan personal.
6) Guru dapat menumbuhkan semangat peserta didik dalam belajar melalui
permainan hypnoteaching (Yustisia, 2012:80)
Untuk
memenuhi tiga aspek pembelajaran yang harus dikuasai peserta didik, penerapan
metode hypnoteaching dapat dikombinasikan dengan metode-metode lain yang
membantu memberi pemahaman kognitif, dan psikomotor peserta didik, sementara
itu aspek afektif dan kondisi psikis peserta didik guru bisa menerapkan metode hypnoteaching
guna memenuhi kebutuhan afektif dan psikis peserta didik, hal itu
dikarenakan metode hypnoteaching merupakan metode yang menekan pada
komunikasi alam bawah sadar peserta didik (Yustisia, 2012:80)
Saat
ini, kita sering melihat sekolah yang kewalahan dan kesulitan dalam menghadapi
berbagai masalah yang dialami oleh para peserta didiknya, mulai dari kecil
hingga masalah besar, mulai dari peserta didik yang malas belajar, tidak
semangat dalam mengikuti pelajaran hingga, bolos di jam pelajaran hingga
masalah penyimpangan perilaku dan tindak kriminal yang akhir-akhir ini semakin
meningkat. Kesulitan yang menjadi masalah dalam sebuah sekolah tersebut, sampai
saat ini masih belum ada yang bisa memberikan solusi yang tepat dan bijaksana
terhadap kejadian tersebut. Biasanya para pihak sekolah hanya memberi nasihat
ataupun hukuman kepada peserta didik yang bermasalah. Bila dirasa sudah
keterlaluan, pihak sekolah pun mengambil keputusan untuk mengeluarkan peserta
didiknya dari sekolah.
Mengingat
bahwa sekolah adalah salah satu tempat untuk meraih pendidikan, tempat
mencerdaskan otak peserta didik dan tempat penanaman nilai-nilai kebangsaan,
akan tetapi pada kenyataannya peserta didik yang sebenarnya membutuhkan
bimbingan untuk bisa sembuh dari kegoncangan jiwa yang membuat peserta didik
menjadi nakal. Ketika perilaku peserta didik menunjukkan perilaku yang tidak
sesuai yang diharapkan, secara tidak langsung itu menunjukkan sebuah sinyal
bagi pihak sekolah dan orangtua untuk menolongnya, bukan untuk dimarahi,
dipermalukan bahkan disingkirkan.
G.
Aplikasi Metode Hypnoteaching dalam Belajar
Mengajar
Dengan
motivasi yang diberikan secara tidak langsung seorang guru tengah berusaha
membawa peserta didik dalam kondisi yang aman sangat relaks dan nyaman, ketika
sudah merasa relaks dan nyaman, barulah guru diharapkan bisa mengucapkan
berulang kali sugesti-sugesti positif tentang murid serta menyampaikan materi
dengan metode-metode lain yang mendukung memahamkan peserta didik tentang
materi.
Unsur-unsur Hypnoteaching
1) Penampilan Guru
Langkah
pertama yang harus diperhatikan guru dalam menggunakan metode hypnoteaching adalah
dengan memperhatikan performa atau penampilan guru. Guru dalam menggunakan
metode hypnoteaching diharuskan berpakaian serba rapi, kalau
memungkinkan bagi yang laki-laki hendaknya memakai dasi, dan serasi. Penampilan
yang baik tentunya akan menimbulkan rasa percaya diri yang tinggi dan membantu
dalam memberikan daya magnet yang kuat bagi peserta didik.
2) Rasa simpati
Seorang
guru harus mempunyai rasa simpati yang tinggi kepada peserta didiknya sehingga
peserta didiknya pun akan menaruh simpati kepadanya pula. Sebab, jika guru
memperlakukan peserta didiknya dengan baik, peserta didiknya pun pasti akan
bersikap baik kepadanya. Meskipun peserta didiknya itu sangat nakal, ia pasti
akan tetap merasa enggan dan hormat kepada guru yang juga menghormatinya.
3) Sikap yang empatik
Sebagai
seorang pendidik, bukan sekedar pengajar, seorang guru harus mempunyai rasa
empati. Ketika didapati ada atau banyak peserta didik yang bermasalah, suka
membuat ulah di sekolah, suka cari perhatian teman dan guru dengan berbicara
sendiri dan membuat ulah yang kurang baik, Guru yang memiliki rasa empati tidak
akan begitu saja menyematkan gelar “peserta didik nakal” ke pundaknya. Guru
tersebut justru menyelidiki latar belakang yang menyebabkan tindakan peserta
didik itu dengan menggali dan mengumpulkan berbagai informasi yang ada serta
membantu peserta didik tersebut menjadi lebih baik dan maju.
4) Penggunaan Bahasa
Guru
yang baik hendaknya memiliki kosa kata dan bahasa yang baik serta enak didengar
telinga, bisa menahan emosi diri, tidak mudah terpancing amarah, suka
menghargai karya, potensi, dan kemampuan peserta didik, tidak suka merendahkan,
menghina, mengejek, atau memojokkan peserta didik dengan berbagai ungkapan kata
yang tidak seharusnya keluar dari lidahnya. Guru yang bisa menjaga lisannya dengan
baik, niscaya para peserta didik pun tidak akan berani mengatakan kalimat yang
menyakiti hatinya. Paling tidak peserta didik yang di perhatikan dan dinasehati
dengan bahasa hati akan menuruti dengan sepenuh hati.
5) Peraga Bagi yang Kinestetik
Peraga
merupakan salah satu unsur hipnosis dalam proses pembelajaran, yang dimaksud
adalah peraga atau mengeluarkan ekspresi diri. Seluruh anggota badan digerakkan
jika diperlukan. Tangan, kaki, mimik, dan suara dieksplorasi secara maksimal
dan optimal. Guru ketika menerangkan diusahakan menggunakan gaya bahasa tubuh
agar apa yang disampaikannya semakin mengesankan dan untuk menerapkan ini,
terlebih dahulu guru harus menguasai materi yang akan disampaikan, karena guru
yang tidak menguasai materi biasanya akan mengajar peserta didik dengan cara
yang membosankan.
6) Motivasi Peserta didik dengan cerita dan Kisah
Salah
satu keberhasilan hypnoteaching adalah menggunakan teknik cerita dan
kisah. Alangkah baiknya jika dalam mengajar kita selalu menyelipkan kisah-kisah
orang-orang sesuai pelajaran yang sedang menjadi pembahasan, karena dengan hal
itu secara tidak langsung kita telah memberi motivasi positif, apalagi melihat
peserta didik yang dipastikan mempunyai masalah pribadi masing-masing yang
biasanya mengganggu fokus pikiran, dan tidak termotivasi dalam belajar. Dengan
guru bercerita, secara tidak langsung guru sedang menasehati peserta didik
tanpa harus mengguru
7) Kalau ingin menguasai pikiran peserta didik, kuasai terlebih dahulu
hatinya
Dalam
mengajar, kuasailah hati peserta didik terlebih dahulu, maka secara otomatis
akan mampu menguasai pikirannya. Bukankah orang yang sedang di mabuk cinta akan
menuruti kemauan kekasihnya, walaupun tidak masuk akal dan di luar kemauan
sekalipun. Maka dari itu dalam mengajar diharapkan guru tidak mengajar secara
formal yang menjadikan suasana kelas menjadi kaku, miskin canda tawa, miskin
kreasi dan tidak mengenal psikologi anak. (Noer, 2010:137-144).
Dalam
menerapkan metode hypnoteaching diharapkan guru bisa menjadi magnet bagi
peserta didik, artinya jika guru menginginkan ketenangan kelas dalam
pembelajaran, maka guru sendiri harus bersikap tenang dulu, jika guru
menginginkan peserta didiknya gemar membaca, maka guru harus gemar membaca, jika
guru menginginkan peserta didiknya rajin belajar, maka guru harus rajin
belajar. Jadi hukum tarik menarik adalah hal yang dimaksudkan dalam metode hypnoteaching,
jika guru menginginkan menjadi apa yang diinginkan, maka guru harus bisa
menjadi apa yang guru inginkan dari peserta didik (Noer, 2010:127).
Seperti
Rasulullah adalah sebagai seorang suri tauladan yang patut dicontoh seorang
guru dalam memahami profesinya, hal itu bisa dilihat pada firman Allah SWT yang
artinya:
“Sesungguhnya telah
ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang
yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak
menyebut Allah (Q.S. Al-Azhab 33:21)”.
Dalam
Islam, Rasulullah adalah contoh nyata pelaksana hukum tarik menarik, tidak
hanya memerintahkan akan tetapi memperlihatkan tindakannya. Tindakan selalu
menjadi pendorong yang kuat bagi setiap orang yang mengikutinya. Bukan hanya
kata-kata indah yang membuat orang bersedia berubah, akan tetapi harus diikuti
oleh tindakan sebagai bentuk keteladanan yang bisa menjadi menghunjam ke dalam
hati dan otak peserta didik khususnya otak bawah sadar peserta didik (Saleh, 2012:264).
Mengenai keteladanan bisa dilihat dari firman Allah SWT:
Wahai orang – orang
yang beriman, kenapakah kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? Amat
besar kebencian di sisi Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu
kerjakan. “ (Q.S. Ash-Shaf, 61:2-3)
Berkenaan
dengan itu, jika ditelaah lebih dalam lagi kronologinya, di atas dijelaskan
bahwa sifat otak bawah sadar itu sifatnya sangat polos menerima apapun
informasi yang baik maupun tidak, jadi sebisa mungkin apapun yang guru ucapkan
dan guru perlihatkan harus positif karena hal itu merupakan bentuk sugesti yang
akan diterima oleh alam bawah sadar peserta didik yang akan mempengaruhi
keberhasilan peserta didik khususnya dalam belajar, dan jangan sampai membuat
sesuatu yang membingungkan otak, ketika apa yang diperlihatkan oleh guru tidak
sesuai dengan apa yang dilakukan oleh guru, hal itu akan sangat mengganggu
tercapainya suatu tujuan. Misalnya, guru menyuruh peserta didik agar setiap
kuku yang sudah panjang harap segera dipotong, karena kuku panjang sangat
mengganggu kesehatan, akan tetapi pada kenyataannya apa yang diperlihatkan guru
sangat tidak sesuai dengan apa yang diperintahkan guru, ternyata guru tersebut
kukunya panjang dan tidak dipotong.
Contoh
kecil di atas, menunjukkan suatu tindakan yang sangatlah tidak sepantasnya, hal
itu akan sangat membingungkan penerimaan pada alam bawah sadar, mau meniru
tindakannya ataukah meniru perintahnya. Maka dari itu, guru diharapkan bisa
menyelaraskan apa yang diucapkan dan apa yang dilakukan agar peserta didik bisa
dengan mudah menerima dan mengaplikasikan apa yang menjadi perintah guru
H.
Langkah-langkah Metode Hypnoteaching
Menurut
Muhammad Noer dalam bukunya N. Yustisia, ada beberapa langkah yang perlu
dilakukan oleh guru. Langkah-langkah tersebut sebagai berikut:
1.
Niat dan Motivasi
Kesuksesan
seorang sangat tergantung pada niatnya untuk senantiasa berusaha dan bekerja
dalam mencapai kesuksesan yang ingin diraih. Niat yang besar dan tekad yang
kuat akan menumbuhkan motivasi dan komitmen yang tinggi pada bidang yang
ditekuni. Sebagaimana seorang guru, guru yang mempunyai motivasi dan komitmen
yang kuat terhadap profesinya, pasti akan selalu berusaha yang terbaik menjadi
guru yang patut dijadikan sosok yang pantas untuk digugu dan ditiru oleh
peserta didiknya.
2.
Pacing
Pacing
berarti menyamakan posisi, gerak tubuh, bahasa, serta
gelombang otak dengan orang lain. Dalam hal ini adalah bagaimana guru
menyesuaikan diri dengan peserta didiknya. Prinsip dalam langkah ini adalah
manusia cenderung atau lebih suka berkumpul, berinteraksi dengan manusia yang
mempunyai banyak kesamaan dengannya. Dengan demikian secara alami dan naluriah,
setiap orang pasti akan merasa nyaman dan senang berkumpul dengan orang lain
yang mempunyai kesamaan dengannya. Sebab ini akan membuat seseorang merasa
nyaman ketika berada di dalamnya, melalui rasa nyaman yang bersumber dari kesamaan
gelombang otak tersebut, setiap pesan yang disampaikan dari satu orang pada
orang lain akan bisa diterima dan dipahami dengan baik.
3.
Leading
Leading
berarti memimpin atau mengarahkan setelah guru
melakukan pacing peserta didik akan terasa nyaman dengan suasana
pembelajaran yang berlangsung. Ketika itulah setiap apapun yang diucapkan guru
atau ditugaskan guru kepada peserta didik, peserta didik akan melakukannya
dengan suka rela dan senang hati. Meskipun materi yang dihadapi sulit akan
tetapi pikiran bawah sadar peserta didik akan menangkap materi pelajaran yang
sampaikan guru menjadi hal yang mudah.
4.
Menggunakan kata-kata positif
Langkah
ini merupakan langkah pendukung dalam melakukan pacing dan leading.
Penggunaan kata positif ini sesuai dengan cara kerja pikiran bawah sadar yang
menerima apa saja yang diucapkan oleh siapa pun negatif maupun positif, jadi hendaknya guru membiasakan untuk
menggunakan kata-kata positif agar tidak ada hal negatif yang diterima oleh
alam bawah sadar peserta didik
5.
Memberikan pujian
Salah
satu hal yang penting yang harus diingat guru adalah adanya reward dan punishment.
Pujian adalah reward peningkatan
harga diri seseorang. Pujian ini merupakan salah satu cara untuk membentuk
konsep diri seseorang. Sementara punishment merupakan hukuman atau
peringatan yang diberikan guru ketika peserta didik melakukan tindakan yang
kurang baik, tentunya dalam memberikan punishment guru melakukannya
dengan hati-hati agar punishment tersebut tidak membuat peserta didik
merasa rendah diri dan tidak bersemangat.
6.
Modeling merupakan proses
pemberian teladan atau contoh melalui ucapan dan perilaku yang konsisten. Hal
ini merupakan sesuatu yang sangat penting dan menjadi kunci berhasil tidaknya
menerapkan metode hypnoteaching.
7.
Untuk mendukung serta
memaksimalkan sebuah pembelajaran dengan metode hypnoteaching, sebaiknya
guru juga menguasai materi pembelajaran secara komprehensif. Hal ini dapat
dilakukan dengan melibatkan peserta didik secara aktif dalam proses
pembelajaran, sebisa mungkin menyampaikan materi secara kontekstual, memberi
kesempatan peserta didik melakukan pembelajaran secara kolaboratif, memberi
umpan balik secara langsung kepada peserta didik. Tidak kalah penting pemberian
motivasi dan sugesti positif harus sering dilakukan selama pembelajaran berlangsung
(Yustisia, 2012:85-88)
Langkah-langkah
yang dijelaskan diatas memberikan gambaran bahwa seorang guru yang tidak
mempunyai rasa cinta terhadap profesi dan rasa cinta terhadap peserta didik
akan terasa kesulitan dalam melakukan hal itu, karena metode hypnoteaching bukanlah
metode yang membutuhkan fisik guru saja, akan tetapi membutuhkan psikis guru
yang harus stabil. Karena metode hypnoteaching menuntut guru
menyelaraskan unsur fisik dan psikis guru. Hal itu bisa dilihat dari bagaimana
guru melakukan langkah memberikan motivasi kepada peserta didik, guru yang
motivasinya dengan cepat diterima peserta didik adalah guru yang mampu
memotivasi diri sendiri karena guru yang tidak memotivasi peserta didik akan
terlihat dari ketidak konsistenan antara apa yang diucapkan guru dengan mimik
muka guru.
Selain
itu, guru juga dituntut untuk bisa menjadi teladan yang baik, maksudnya
menyelaraskan apa yang menjadi perintah guru dengan tindakan guru khususnya
yang berhubungan dengan nilai kebaikan. Dalam hal ini guru dituntut untuk
menjadi figur yang pantas jadi teladan bagi peserta didik.
I.
Kelebihan dan Kekurangan Metode Hypnoteaching
Sebagai
sebuah metode, hypnoteaching juga tak lepas dari kelebihan dan
kekurangan tersendiri, adapun kelebihannya adapun kelebihannya adalah sebagai
berikut:
1.
Peserta didik bisa berkembang
sesuai dengan minat dan potensi yang dimilikinya.
2.
Guru bisa menciptakan proses
pembelajaran yang beragam sehingga tidak membosankan bagi peserta didik.
3.
Proses pembelajaran yang beragam
sehingga tidak membosankan bagi peserta didik.
4.
Tercipta interaksi yang baik
antara guru dan peserta didik
5.
Materi yang disajikan mampu
memusatkan perhatian peserta didik.
6.
Materi mudah dikuasai peserta
didik sehingga mereka lebih termotivasi untuk belajar.
7.
Banyak terdapat proses pemberian
keterampilan selama pembelajaran.
8.
Proses pembelajaran bersifat
aktif.
9.
Peserta didik lebih bisa
berimajinasi dan berpikir secara kreatif.
10. Disebabkan tidak menghafal, daya serap peserta didik akan lebih cepat
dan bertahan lama.
11. Pemantauan guru akan peserta didik menjadi lebih intensif.
12. Disebabkan suasana pembelajaran rileks dan menyenangkan, hal ini
membuat peserta didik merasa senang dan bersemangat ketika mengikuti
pembelajaran.
Adapun
kelemahan dari metode hypnoteaching adalah sebagai berikut:
a.
Banyaknya peserta didik yang
berada dalam suatu kelas mengakibatkan para guru merasa kesulitan untuk
memberikan perhatian satu per-satu kepada peserta didik.
b.
Para guru perlu belajar dan
berlatih untuk menerapkan metode hypnoteaching.
c.
Metode hypnoteaching masih
tergolong dalam metode baru dan belum banyak dipakai oleh para guru di
Indonesia.
d.
Kurang tersedianya sarana dan
prasarana di sekolah yang bisa mendukung penerapan metode hypnoteaching (Yustisia,
2012:83).
Melihat
penjelasan mengenai kekurangan metode hypnoteaching guru adalah pusat
pelaksanaan metode hypnoteaching, guru mempunyai peran besar dalam
pelaksanaan metode hypnoteaching. Maka dari itu, untuk bisa
meminimalisir kekurangan tersebut, guru harus banyak belajar dan berlatih guna
memaksimalkan penggunaan metode hypnoteaching.
Dan
bagi guru yang masih asing dengan metode hypnoteaching, diharapkan untuk
bisa menerapkannya dengan menyadari tanggungjawabnya, guru dipastikan akan
mampu menerapakannya. Hal itu dikarenakan metode hypnoteaching merupakan
metode yang di dalamnya menekankan unsur psikologi. Guru dituntut mempunyai
jiwa yang stabil yang harus ditunjukkan dengan bahasa lisan yang penuh motivasi
dan bahasa tubuh yang penuh semangat, serta penampilan yang mempunyai
kenyamanan tersendiri jika dipandang oleh peserta didik. Untuk bisa menjadi
figur yang berpengaruh, tidak lepas dari kekuatan dari dalam diri. alangkah
baiknya kebiasaan dzikrullah bisa sering dilakukan oleh siapa saja
khususnya guru, karena hal itu akan menjadi sebuah amal baik bagi diri sendiri,
serta akan mempunyai manfaat oleh orang lain, dalam hal ini akan sangat membantu
guru memperkuat pribadinya agar pantas menjadi sosok yang magnetis.
Selain
itu, untuk bisa menjadi guru yang serta hal lain yang tidak kalah penting
adalah penguasaan materi pembelajaran yang harus dikuasai guru, karena guru
yang tidak menguasai materi akan mengurangi rasa percaya diri serta tidak akan
ada kemantapan dalam menyampaikan materi dan hal itu akan sangat mempengaruhi
penerimaan peserta didik terhadap materi, serta untuk mengatasi jumlah murid
yang terlalu banyak, yang sulit dijangkau satu persatu, penggunaan metode hypnoteaching
bisa dipadukan
dengan metode lain yang sekiranya bisa membuat kelas yang gemuk menjadi hidup
dalam pembelajaran.
J.
Hasil Kajian yang Relevan
Menelaah beberapa hasil penelitian yang relevan
tentang metode penggunaan
hypnoteaching sesuai memberikan manfaat, dapat dilihat dari
hasil penelitian berikut ini;
1. Kosiczky, B. &
Carol A. Mullen, 2013. Humor in High School and the Role of Teacher Leaders in
School Public Relations. Dari hasil kajiannya menemukan bahwa “humor
improves instruction and supports classroom climate”.
2. Gregory
L. Weiss.2007. A Pedagogical Boomerang: From Hans Mauksch To Medicine To The
Teaching and Learning of Sociology. Dalam artikelnya Weiss menyampaikan bahwa “Hampir
34% dari 70.2% artikel yang dipublikasikan pada sosiologi pengajaran di
PreQuest Sociology membahas tentang
Teknik kominikasi dalam pengajaran.
3. Rahmawatiningrum, Linta.
2012 dengan judul penelitian skripsinya efektifitas penggunaan metode hynoteaching
dalam pembelajaran matetmatika kelas IV semester II di SDIP H. Soebandi
Kecamatan Bawean kabupaten Semarang Tahun Pelajaran 2011/2012. Desain penelitiannya adalah Two group
post-test only design,analisis data mengunakan Independent Sample, dan
analisis statistik menggunkan SPSS 16.0 for windows dengan hasil 0,000
lebih kecil dari 0,05. Dengan demikian bahwa terdapat perbedaan efektifitas
pembelajaran yang signifikasn dengan mengguakan metode hypnoteaching.
4. Suriyanto. 2013. Judul Penelitian skripsinya
adalah peningkatan prestasi belajar ilmu pengetahuan alam melalui metode hypnoteaching pada siswa kelas IV MI
Tarbiyatul Ulum, Jembrak, Kecamatan Pabelan, kabupaten Semarang Tahun Pelajaran
2012/2013. Jenis penelitian adalah penelitian tindakan kelas (PTK) dilakukan
dalam tiga kali siklus. Dan tiap siklus terdiri dari empat tahap; yaitu
perencanaan, pelaksanaan, pengamatan, dan refleksi. Dari hasil belajar pada
tahap I nilai rata-rata 69 dari 53,3%siswa, tahap II nilai rata-rata 71 dari
66,7 % siswa, tahap III nilai rata-rata 76,6 dari 93,3% siswa. Dengan demikian
Metode Hypnoteaching menjadi
alternative untuk meningkatkan prestasi belajar IPA.
Informasi diatas semakin menambah kenyakinan
bahwa penggunaan metode hypnoteaching dalam
pembelajaran sangat efektif dalam membantu guru mengelola pembelajaran dengan
baik, sehingga peserta didik mencapai perkembangan yang optimal. Hypnoteaching sangat didukung oleh
kemampuan komunikasi guru selama berada dalam kelas dengan bahasa bawah sadar, membentuk
iklim kelas yang dapat membuat para peserta didik relaks, nyaman dan
menyenangkan selama berada dalam dikelas.
BAB III
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Berdasarkan uraian dan hasil kajian menunjukkan
bahwa penggunaan hypnoteaching dalam pembelajaran di kelas memberikan banyak manfaat. Diantaranya:
pertama, memotivasi siswa untuk tetap bersemangat di setiap materi
pembelajaran. Yaitu dengan memberikan kata-kata yang tidak memberatkan dan
menyulitkan pikiran siswa di setiap sesi pemberlajaran. Kedua, dapat menenangkan siswa yang sering
membuat ribut di kelas, dengan mensugestinya melalui kata-kata positif dan
kepercayaan. Ketiga, mengoptimalkan pembelajaran karena informasi yang
diberikan guru masuk pada memori jangka panjang siswa dan dapat dipanggil
kembali kapanpun siswa itu butuhkan.
Ternyata,
hypnoteaching
secara tidak langsung telah dipraktekkan oleh sebagian guru, sehingga mereka
dinamakan guru teladan karena mereka bisa memasuki relung jiwa peserta
didiknya. Konsep hypnoteaching sebenarnya merupakan cara guru berpersepsi dalam
mengendalikan pikirannya serta pikiran peserta didiknya dalam proses
pembelajaran di kelas. Hypnoteaching bukanlah hal yang asing, karena itu
praktekkanlah dan jangan takut tidak bisa sebelum mencoba. Karena pikiran akan
membentuk kenyataan.
B.
Saran
Untuk dapat
menerapkan hypnoteaching dalam
pembelajaran, seorang pendidik hendaknya memiliki kenyakinan yang kuat bahwa ia
mampu menyampaikan pengetahuan kepada semua peserta didiknya. Pendidik harus
memiliki kemampuan komunikasi yang baik, serta menguasi berbagai metode dan
teknik pengajaran, sehingga dapat menciptakan gaya mengajar yang terbaiknya.
Dan yang terakhir para pendidik menyiapkan bahan dan alat pendukung pengajaran
serta mampu menggunakan.
DAFTAR PUSTAKA
Departemen
Agama Republik Iindonesia. 2005. Alqur’an dan Terjemahnya. Bandung: J-ART.
Gunawan,
Adi W. 2007. “Hypnoteraphy for Children”.
Hakim,
Andri. 2011. Hypnosis in Teaching
Hypnosis in Teaching Cara Dahsyat Mendidik dan Mengajar. Visimedia: Jakarta
Juwariyah. 2010. Hadits Tarbawi. Teras: Yogyakarta.
Kosiczky, B. & Carol A.
Mullen, 2013. Humor in High School and the Role of Teacher Leaders in School
Public Relations. Journal of School Public Relations: Vol.34 winter. pg
6-39.
Meggit,
Carolyn. 2013. Memahami Perkembangan Anak. Indeks: Jakarta.
Miller,
John P. 2002. Cerdas di Kelas Sekolah Kepribadian. Kreasi Wacana:
Yogyakarta.
Noer,
Muhammad. 2010. Hypnoteaching for
Success Learning. PT. Bintang Pustaka Abadi: Yogyakarta.
Rahmawatiningrum, Linta. 2012. Efektifitas
Penggunaan Metode Hynoteaching dalam Pembelajaran Matetmatika Kelas IV semester
II di SDIP H. Soebandi Kecamatan Bawean Kabupaten Semarang Tahun Pelajaran
2011/2012. (Skripsi), UKSW: Salatiga
Ratnawati.
2005. Aplikasi Quantum Learning,
Jurnal Pendidikan Islam”. (Vol. XIV, No. 1, Mei/2005).
Saleh,
Akh. Muwafik. 2012. Membangun Karakter Dengan Hati Nurani. Erlangga:
Malang.
Suriyanto. 2013. Peningkatan
prestasi belajar ilmu pengetahuan alam melalui metode hypnoteaching pada siswa
kelas IV MI Tarbiyatul Ulum, Jembrak, Kecamatan Pabelan, kabupaten Semarang
Tahun Pelajaran 2012/2013. (Skripsi), STAIN Salatiga: Salatiga
Syatra,
Abdul Khaf. 2010. Misteri Alam Bawah
Sadar Manusia. Diva Press:
Jogjakarta.
Weiss, G. L. 2007. A Pedagogical Boomerang: From Hans Mauksch To Medicine To The Teaching
and Learning of Sociology. Journal
of Teaching Sociology, Vol.35 (1 )1-16.
Yustisia,
N. 2012. Hypnoteaching seni mengeksplorasi otak peserta didik. Ar-ruzz
Media: Jogjakarta
Tidak ada komentar:
Posting Komentar